
Perjalanan mendadak karena rindu kampung
Perjalanan mendadak karena rindu kampung – Kadang, rindu itu datang tanpa aba-aba. Bisa karena bau masakan khas yang tiba-tiba tercium, atau obrolan ringan di grup keluarga yang menyentuh hati. Dan dari sekian banyak jenis rindu, yang paling sulit diabaikan adalah rindu akan kampung halaman. Saya pernah mengalaminya—sebuah perjalanan yang awalnya tak direncanakan, tapi justru jadi salah satu momen paling berkesan dalam hidup. Ini adalah kisah Perjalanan mendadak karena rindu kampung, disimak ya..~
Perjalanan mendadak karena rindu kampung

Hari Biasa, Tapi Perasaan Luar Biasa
Saat itu hari Rabu sore, cuaca Jakarta mendung. Saya baru pulang kerja, duduk lemas di kos sambil menyeruput kopi sachet. Di grup keluarga, Ibu mengirim foto suasana dapur di rumah: panci besar, sayur lodeh, dan gorengan masih hangat di atas meja. Ada keterangan singkat: “Masak sore buat Bapak sama adikmu, kalau kamu ada di sini pasti suka banget ini ya.”
Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca. Sudah hampir setahun saya tidak pulang karena pekerjaan dan berbagai alasan lainnya. Momen itu terasa seperti tamparan kecil: saya rindu rumah.
Keputusan Tanpa Banyak Pikir
Tak butuh waktu lama, saya membuka aplikasi pemesanan tiket dan mencari jadwal keberangkatan malam itu. Ternyata masih ada sisa kursi kereta ekonomi ke Yogyakarta, berangkat pukul 21.30 dari Pasar Senen. Tanpa pikir panjang, saya langsung pesan.
Saya hanya punya waktu 3 jam untuk berkemas. Isinya? Baju secukupnya, charger, jaket, dan satu dus kecil berisi oleh-oleh seadanya dari minimarket. Saya berangkat dari kos dengan hati deg-degan tapi juga ringan. Ada perasaan lega—akhirnya saya akan pulang.
Perjalanan yang Penuh Rasa
Di dalam kereta, saya duduk di dekat jendela. Sambil menatap kegelapan luar, pikiran saya penuh kenangan masa kecil: berlarian di halaman rumah, naik sepeda ke warung, atau tidur di tikar depan TV bersama keluarga.
Perjalanan 8 jam itu terasa campur aduk. Lelah, tapi hangat. Dingin, tapi menenangkan. Di tengah malam, saya sempat membeli kopi instan dari petugas kereta dan menikmati setiap tegukan seperti sedang merayakan momen kecil.
Tiba di Pagi Hari yang Syahdu
Kereta tiba di Stasiun Tugu sekitar pukul 06.00. Jalanan masih sepi, dan udara Yogyakarta terasa sejuk menusuk. Saya naik ojek online ke rumah dan sampai saat Ibu sedang menyapu halaman. Ia terkejut bukan main melihat saya muncul begitu saja, tanpa kabar, sambil membawa kantong plastik berisi cemilan.
“Lho, kok kamu nggak bilang dulu?” katanya sambil langsung memeluk saya. Suara Ibunya pun bergetar, dan pelukannya hangat seperti dulu saat saya masih kecil.
Hari-Hari Sederhana, Tapi Penuh Arti
Selama tiga hari di kampung, saya benar-benar istirahat dari semua hiruk pikuk kota. Tidak membuka laptop, tidak menyentuh email kantor. Hanya menikmati makanan rumahan, ngobrol panjang lebar dengan keluarga, tidur siang, dan jalan kaki sore menyusuri jalan desa.
Saya bahkan sempat bantu Bapak di kebun kecil belakang rumah. Menyiram tanaman, mencabuti rumput, dan sekadar duduk di kursi bambu sambil ngobrol soal apapun. Semua itu, yang terlihat remeh, justru terasa paling berarti.
Kembali ke Kota, Tapi Tidak Lagi Sama
Saat kembali ke Jakarta, saya merasa seperti orang yang baru. Ada energi yang berbeda, ada semangat yang diperbarui. Rasa lelah yang sebelumnya menumpuk seperti disapu bersih oleh udara kampung dan pelukan keluarga.
Perjalanan itu memang tidak direncanakan, tapi justru itulah yang membuatnya spesial. Kadang, keputusan terbaik bukan yang dirancang lama-lama, tapi yang diambil dari dorongan hati yang tulus.
Pelajaran dari Perjalanan Mendadak
Dari pengalaman ini, saya belajar beberapa hal penting:
-
Rindu jangan ditunda terlalu lama.
Rindu itu seperti hutang emosi. Semakin ditunda, semakin berat rasanya. -
Pulang itu bukan soal tempat, tapi soal pulih.
Rumah bukan sekadar bangunan, tapi tempat di mana hati merasa utuh kembali. -
Tak semua perjalanan butuh alasan kuat.
Kadang, satu rasa cukup: rindu.
Penutup
Perjalanan mendadak karena rindu kampung mungkin terlihat impulsif di mata orang lain, tapi bagi saya, itu salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Dalam kesederhanaannya, saya menemukan kembali apa yang sering terlupakan: arti pulang, arti keluarga, dan arti dari sebuah jeda yang sungguh-sungguh.
Kalau kamu saat ini sedang rindu rumah, jangan abaikan. Mungkin, itu bukan sekadar perasaan lewat—mungkin, itu panggilan untuk pulang.

